Tuesday, March 27, 2012 0 comments

A quick update, ndasmu.

Sebelum kita memulai postingan ini, ada baiknya kita awali dengan doa agar postingan ini tidak berakhir nista di dalam kolom "draft".
Berdoa, dimulai.
*bersin*
Selesai.

Ehm.
HALOH SEMUANYAAAH!
Apa kabar yang di sana? Di sini? Di ujung sana? JAKARTA SIAP DIGOYAAANG??
...
Oke, salah konteks. Saya suka khilaf kalo lagi nulis gini.
Eniwey.
SAYA KANGEN!
Kangen nulis suka-suka di blog ini, mengingat beberapa postingan di bawah ini menunjukkan jiwa saya yang sedang tidak stabil dan agak terburai kemana-mana akibat perasaan.
*tsah*
*kibas poni*
*kecolok, soalnya udah agak panjang poninya*

Kali ini, saya mau cerita tentang kesibukan saya sehari-hari pada beberapa waktu belakangan ini.
*dilemparin telor busuk. Lukate Nikita Willy?*
Saya sampe sekarang masih belajar sebagai siswi teladan di sebuah sekolah swasta, di mana sekolah ini berstandar Internasional dan fasilitasnya pun sangat memadai.
*sedikit merasa keren*
*kibas poni*
*kecolok lagi*

Apa lagi, ya? Udah sih itu aja. Nggak ada banyak cerita buat di-share.
Udah ya saya mau tidur. So long, farewell, auf widersehen, good afternoon!
*tidur berlumur iler*
*dikeplakin pembaca, postingannya gitu doang, nggak penting pula*
Saturday, March 17, 2012 0 comments

Man Jadda Wajada! (҂’̀⌣’́)9

Saya membaca bukunya kurang lebih setahun lalu. Kata-kata sakti “man jadda wajada”, yang artinya ”siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil”. Dalam bukunya diceritakan bagaimana seorang Alif yang berkeinginan melanjutkan SMA di Bandung (lalu masuk ITB), malah disuruh masuk pesantren sesuai keinginan orangtuanya yang ingin Alif menjadi ulama intelektual seperti Mohammad Hatta atau Buya Hamka. Alif pun terpaksa mengikuti keinginan mereka, setelah dibujuk oleh ayahnya dengan perkataan semcam “kalau gak dicoba, mana bisa tau?”. Jadilah Alif bertumbuh dewasa dan mengembangkan diri di Pondok Madani, bersahabat dengan lima anak dari daerah lainnya, dan akhirnya terwujudkanlah mimpi mereka selama ini, pergi ke luar negeri. Saya nggak mau banyak² cerita soal bukunya (baca aja sendiri ya kalau belum), karena di sini saya akan memberikan ulasan tentang filmnya. Here we go…

Negeri 5 Menara



Cerita:

Bagian-bagian penting di bukunya hampir terangkum semua di sini, cerita awal dari proses perginya Alif dari Agam sampai Ponorogo (tapi keindahan alam tempat asal Alif tidak dijelaskan detail), terbentuknya ‘shahibul menara’, jalan-jalan ke Bandung (di bagian ini lebih mengasyikkan dari bukunya), perginya Baso dari Pondok Madani, dan klimaks dari cerita ini yaitu pertunjukan seni Ibnu Battuta.
Seperti bukunya, ending dari film ini juga sangat singkat, kurang greget gimana gituh, but that’s fine I think. Dan beberapa adegan juga disesuaikan agar lebih menarik untuk diangkat dalam film (contoh adegan pengantaran biang es).
"Ingat, bukan yg paling tajam, tp yg paling bersungguh-sungguh. Man Jadda Wajada! Siapa yg bersungguh-sungguh, dia yg akan berhasil."


Dialog bahasa Perancis si Alif di the last scene membuat hati ini semakin menggebu-gebu mengejar impian!! :-)
Setting:

Bersetting tahun 80an, film ini berhasil menyajikan suasana 80an. Saya kagum saat jalanan di Bandung dipenuhi mobil-mobil lawas, juga tone warna yang digunakan mendukung kelawasan setting film ini.



Make-up dan wardrobe:

Tidak bisa dipungkiri, semua yang ada di sini jadi dekil! Andhika Pratama yang kulitnya seperti bule itu, jadi item dan dekil (tapi tetep cute). Apalagi pemeran shahibul menara, beda jauh ma aslinya!



Shahibul Menara

Cuma Lulu Tobing aja yang terlihat cantik walau agak dekil di sini.


Cast:

Pemeran Shahibul Menara di film ini didapat dari proses casting, mereka sebelumnya tidak begitu terkenal. Akting yang saya sukai di film ini adalah akting dari Rizki Ramdani, Andhika Pratama, dan Lulu Tobing. Ikang Fauzi terlalu eksentrik dalam membawakan peran sebagai Kyai Rais (sesuaibayangan saya di novelnya). Berikut ini cast lengkapnya.

Alif – Gazza Zubizareta
Baso – Billy Sandy
Said – Ernest Samudera
Atang – Rizki Ramdani
Raja – Jiofani Lubis
Dulmajid – Aris Putra
Kyai Rais – Ikang Fawzi
Ustad Salman – Donny Alamsyah
Ustad Tariq – Rangga Djoned
Iskandar – Mario Irwinsyah
Fahmi – Andhika Pratama
Ayah Alif – David Chalik
Ibu Alif – Lulu Tobing
Sarah – Eriska Rein


Kesimpulan:

Beban dari sebuah film yang diangkat dari buku (apalagi jika bukunya fenomenal) adalah filmnya harus sedekat mungkin dengan ekspektasi pembaca, jadi jika ada beberapa bagian yang tidak sesuai dengan ekspektasi karena terlalu mengagumi bukunya, wajar saja. Tiga dari lima bintang, saya rasa cukup.


Untuk melihat trailernya, bisa klik di sini.
0 comments

March, 16. 2012



Aduh sumpah, aku tak mengerti

Bantu aku mengerti!



Kau bisa miliki bidadari jutaan

Kau bisa kuasai rembulan

Kau bisa atur keajaiban

Apalagi yang diperlukan?

Sebuah pengakuan?

Atau keagungan?

Harusnya aku tidak diperhitungkan



Aku hanya satu dari tak terhingga

Dipikirin juga buat apa?

Tak ada gunanya

Tak berharga

Tinggalkan saja


16/3/2012
Friday, March 9, 2012 0 comments

Tanpa Judul.



Judulnya masih kosong

Kalau diraba pasti kopong

Melompong seperti kosongnya gentong

Bolong seperti gigi ompong



Judulnya mau apa?

Sudah kehabisan kata

Biar saja tak ada judulnya

Toh masih ada isinya



Tunggu, apa sudah cukup berisi?

Jangan-jangan ini puisi mati

Puisi tidak punya arti

Yang biasa ditumpuk dalam peti



Tunggu, apa tak apa tanpa judul?

Jangan-jangan jadi puisi gundul

Tak ada kesan luar biasa

Tidak menarik untuk dibaca



Ya sudahlah, tak apa

Toh puisi ini bukan untuk dibaca

Puisi ini dibuat untuk dicari judulnya


9/3/2012
Ada usul untuk judul?
 
;