Saya membaca bukunya kurang lebih setahun lalu. Kata-kata sakti “man
jadda wajada”, yang artinya ”siapa yang bersungguh-sungguh, akan
berhasil”. Dalam bukunya diceritakan bagaimana seorang Alif yang
berkeinginan melanjutkan SMA di Bandung (lalu masuk ITB), malah disuruh
masuk pesantren sesuai keinginan orangtuanya yang ingin Alif menjadi
ulama intelektual seperti Mohammad Hatta atau Buya Hamka. Alif pun
terpaksa mengikuti keinginan mereka, setelah dibujuk oleh ayahnya dengan
perkataan semcam “kalau gak dicoba, mana bisa tau?”. Jadilah Alif
bertumbuh dewasa dan mengembangkan diri di Pondok Madani, bersahabat
dengan lima anak dari daerah lainnya, dan akhirnya terwujudkanlah mimpi
mereka selama ini, pergi ke luar negeri. Saya nggak mau banyak² cerita
soal bukunya (baca aja sendiri ya kalau belum), karena di sini saya akan
memberikan ulasan tentang filmnya. Here we go…
Negeri 5 Menara
Cerita:
Bagian-bagian penting di bukunya hampir terangkum semua di sini, cerita
awal dari proses perginya Alif dari Agam sampai Ponorogo (tapi keindahan
alam tempat asal Alif tidak dijelaskan detail), terbentuknya ‘shahibul
menara’, jalan-jalan ke Bandung (di bagian ini lebih mengasyikkan dari
bukunya), perginya Baso dari Pondok Madani, dan klimaks dari cerita ini
yaitu pertunjukan seni Ibnu Battuta.
Seperti bukunya, ending dari film ini juga sangat singkat, kurang greget
gimana gituh, but that’s fine I think. Dan beberapa adegan juga
disesuaikan agar lebih menarik untuk diangkat dalam film (contoh adegan
pengantaran biang es).
"Ingat,
bukan yg paling tajam, tp yg paling bersungguh-sungguh. Man Jadda
Wajada! Siapa yg bersungguh-sungguh, dia yg akan berhasil."
Dialog bahasa Perancis si Alif di the last scene membuat hati ini semakin menggebu-gebu mengejar impian!! :-)
Setting:
Bersetting tahun 80an, film ini berhasil menyajikan suasana 80an. Saya
kagum saat jalanan di Bandung dipenuhi mobil-mobil lawas, juga tone
warna yang digunakan mendukung kelawasan setting film ini.
Make-up dan wardrobe:
Tidak bisa dipungkiri, semua yang ada di sini jadi dekil! Andhika
Pratama yang kulitnya seperti bule itu, jadi item dan dekil (tapi tetep
cute). Apalagi pemeran shahibul menara, beda jauh ma aslinya!
Shahibul Menara
Cuma Lulu Tobing aja yang terlihat cantik walau agak dekil di sini.
Cast:
Pemeran Shahibul Menara di film ini didapat dari proses casting, mereka
sebelumnya tidak begitu terkenal. Akting yang saya sukai di film ini
adalah akting dari Rizki Ramdani, Andhika Pratama, dan Lulu Tobing.
Ikang Fauzi terlalu eksentrik dalam membawakan peran sebagai Kyai Rais
(sesuaibayangan saya di novelnya). Berikut ini cast lengkapnya.
Alif –
Gazza Zubizareta
Baso –
Billy Sandy
Said –
Ernest Samudera
Atang –
Rizki Ramdani
Raja –
Jiofani Lubis
Dulmajid –
Aris Putra
Kyai Rais –
Ikang Fawzi
Ustad Salman – Donny Alamsyah
Ustad Tariq –
Rangga Djoned
Iskandar –
Mario Irwinsyah
Fahmi –
Andhika Pratama
Ayah Alif – David Chalik
Ibu Alif – Lulu Tobing
Sarah –
Eriska Rein
Kesimpulan:
Beban dari sebuah film yang diangkat dari buku (apalagi jika bukunya
fenomenal) adalah filmnya harus sedekat mungkin dengan ekspektasi
pembaca, jadi jika ada beberapa bagian yang tidak sesuai dengan
ekspektasi karena terlalu mengagumi bukunya, wajar saja. Tiga dari lima
bintang, saya rasa cukup.
Untuk melihat trailernya, bisa klik
di sini.
- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact