Friday, June 22, 2012 0 comments

Percakapan Dua Hati


Kepada rindu yang tergantung di langit tak bertepi, mari bersahabat dan peluk aku erat. Jadikan malam ini lebih berarti.

Jangan enggan menghampiri, buang angkuh dan rengkuh rindu. Karena kita adalah dua sisi koin usang. Ditakdirkan berpasangan.

Kepada cinta yang kita puja. Kepada hati yang beresonansi. Dan rindu yang menyelinap di sela jari. Peluk aku, sampai pagi.

Kepada gairah yang meletup. Kepada hasrat yang meredup. Dan sebaris doa yang tertangkup. Adakah hati yang terketuk?

Jika kangen adalah danau yang tenang, apakah rindu adalah ombak yang menantang?

Jika cinta adalah api yang membara, apakah kasih adalah hangat yang meraja?

Jika dendam adalah bintang yang memudar, apakah benci adalah bisa yang menular?

Jika “selamanya” adalah utopia, mengapa kita mencintai dusta?

Jika “aku mencintaimu” tak berarti, mengapa kita rela menunggu sampai buku jari memutih?

Jika harapan adalah riak yang terus bergetar, aku ingin menangkap gaungnya walau samar. Sampai hening memekakkan. Sampai jeda tak tertahankan. Sampai aksara kehilangan arti. Sampai hampa menemukan getir di lidah.

Ketika paradoks berevolusi, dan ironi adalah produk gagal masa kini. Lalu, kepada siapa menitipkan nurani?

Ketika senja dan malam bergulat dalam diam, pedang jingga cakrawala mulai menghunjam tajam. Menelikung dalam kegelapan. Hitam.

Kita bergulat dengan kata, jari saling menuding dan hati berdarah. Meleleh melalui ego yang mendidih. Berhenti di sudut jiwa yang perih. Lalu kita saling membelakangi. Meninggikan ego yang tak lagi berarti. Setelah hampa menyapa, semua sudah sia-sia. Percuma.

Mereka membicarakan tragedi. Merangkai kalimat berbunga yang terbungkus agitasi. Membungkus cinta dengan bingkai patah. Percuma. Tinggal getir yang terkecap di lidah. Maaf yang sia-sia. Cinta yang terhempas karena nafsu yang menggelora. Satu kata tersisa: Percuma.

Pertempuran dua hati. Mencoba mengikat dan dan saling memiliki. Mereka lupa konsep paling luhur. Cinta tak akan pernah hancur.

Mungkin kita tercipta untuk melengkapi. Mungkin konsep sejati hanya ilusi. Mungkin hujan adalah cinta langit kepada Bumi. Mungkin.

Sudahlah. Mungkin dua hati yang berdentum tak butuh harmoni. Kepastian itu membosankan! Kesempurnaan adalah jurang pemisah. Sudahlah.



Ps: Kepada Mr. Y, lelaki yang akhir-akhir ini hadir di tab mentionku. Terima kasih untuk tulisan yang kau torehkan di blogmu. Aku menyukainya. Seperti aku menyukai tulisanku sendiri *narsis dikit* Tengoklah sebentar timeline Twitterku. Di sana, aku menuliskan sebuah kode untukmu. Temukan dan pahami isinya :) Ada hubungannya dengan surat yg kau tulis di blogmu dan obrolan terakhir kita mengenai stra.. Ah, iya mengenai itu. Aku tak pernah mau membahas masalah itu dengan siapapun. Itu tak pernah penting di hidupku. Tak pernah terlintas faktanya. Eniwey, kita belum secara resmi berkenalan. Perkenalkan, aku Asca. Siapa namamu? Ah, tunggu sebentar. Aku sudah tau namamu. Tapi yg aku tanyakan, aku harus memanggilmu apa? Salam perkenalan dariku, Mr. Y. :')
Friday, June 15, 2012 0 comments

Seperti kita, pada suatu ketika.


Kamu datang kemarin malam. Cuma dalam mimpi, tapi seperti benar terjadi.

Mungkin kelak, pertemuan kita akan terjadi persis seperti itu. Aku dan kamu sama-sama tengah dalam sebuah bus, menempuh perjalanan menuju entah ke kota mana. Mungkin Yogya, atau Bandung. Kita berdua duduk pada kursi paling pinggir. Kursi yang bersebrangan, yang sebelah tempat orang berlalu-lalang. Lalu kita berhadapan. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba tangan kita sudah berpegangan. Kamu lalu bercerita, tentang apa saja. Ah, seingatku, kamu mengeluh mengenai keinginanmu untuk lekas lepas dari rutinitas menjemukan itu.

Di dalam mimpi tadi malam, bus yang kita tumpangi sepi penumpang. Bukan cuma sepi, tapi sangat sepi. Hanya ada aku dan kamu. Dan mungkin, pengendara yang tak kita ketahui siapa. Aku jadi ingat apa yang pernah kita bicarakan. Katamu, pertemuan, pembicaraan, pembebasan pikiran-pikiran liar kita mengenai kehidupan, benar-benar seperti terjadi di alam mimpi. Ini bagai imajinasi, ujarmu. Karena di dunia nyata, kamu hampir tak pernah menemukan cerita seperti ini. Aku tersenyum, tepat saat kamu berkata, bahwa aku telah menarikmu masuk ke dalam duniaku.

Lalu aku mendengar kamu bertanya, setengah berbisik, mengenai aku yang tak percaya dengan kebetulan-kebetulan dalam hidup. Mengenai kekuatan luar biasa yang menggerakan setiap pertemuan.

"Kekuatan itu, berasal dari diri kita, atau sesuatu yang memang terdapat di luar dan sudah ditentukan entah sejak kapan?"

Kamu tahu kenapa bisa terjadi sebuah pertemuan? Karena ada dua orang, yang berjalan menuju titik yang sama. Tak ada yang cuma mencari, sedang yang lain hanya duduk saja menunggu. Keduanya mesti bergerak. Sama-sama mengayun langkah. Untuk kemudian berhenti di garis yang sama. Yang bersinggungan. Seperti kita, kuharap, pada suatu ketika.
Wednesday, June 6, 2012 0 comments

Perkenalkan, Creedy!

Perkenalkan, teman lama saya… Namanya Creedy. Apa artinya? Saya pun tak tahu. You tell me J.

Yang pasti, kondisi yang tak terlalu baik diawal, perbedaan pendapat tentang apa dan siapa dia, menjadikan nama Creddy cukup tepat. Krisis Identitas. Yaaa… sebut saja demikian.

Beberapa yakin bahwa dia adalah seekor anjing. Beberapa yang lain percaya ia seekor beruang. Saya sendiri entah mengapa keukeuh dia adalah seekor kuda nil (hippopotamus).

Siapa dan apapun, saya yakin dia akan setia menemani saya. Begitulah seorang teman sejati seharusnya.

Creedy berasal dari TimeZone entah cabang mana, atas modal dan usaha Bebek a.ka Lul lul, sang Mozaik yg hilang :') Terima kasih!

Creddy says hiiiii! :)



 
;