Aku menyebutnya 'menyulam kejauhan'. Saat aku melebarkan sekian jarak. Saat aku memilih jalan yang terjauh untuk sampai padamu. Saat keterasingan begitu lebar aku bentangkan. Saat aku menolak berbicara padamu lagi.
Senja masih sama. Keterpaduan warna yang sulit disangkal keharmonisannya. Semburat merah yang tumpah, kelabu yang melingkupinya, ungu yang tak membuat jenuh, dan kuning yang indah terpadu.
Malam masih sama. Masih tentang kegelapan yang coba dikalahkan. Dengan bintang-bintang. Dengan lampu-lampu. Dengan cahaya. Masih tentang kesunyian yang biasa. Pejaman mata. Serta mimpi-mimpi yang berterbangan di udara.
Tapi ada yang sudah berbeda, dan itu adalah kita. Kamu telah menjadi sesuatu yang lain. Seperti api yang tidak boleh disentuh jika tidak ingin terbakar dan melepuh luruh. Kamu bukan lagi air yang mengalirkan percikan-percikan menenangkan dalam rongga dadaku. Kamu telah menjelma menjadi semacam kegelisahan itu sendiri. Dan semua tak layak lagii dipelihara. Cinta yang kukira selamanya. Kisah yang kukira nyata. Ternyata semua itu tidak lebih dari sekedar fatamorgana. Ilusi-ilusi yang tak ada tapi terus kupercayai. Cintamu yang ternyata kosong dan lidahmu yang ternyata menyimpan banyak cabang.
Dan kau tahu jatuh itu sakit. Maka aku tidak layak dan tidak sudi lagi mengalami kejatuhan yang sama. Dan selamanya, yang kau tawarkan. Nyanyian-nyanyian yang kau senandungkan. Ucapan-ucapan serba tinggi tapi selalu tanpa bukti. Dering-dering yang selalu kau ulang-ulangi. Tidak lebih dari sesuatu yang kini tidak akan ada artinya lagi selain keisengan yang nyata.
Kau tahu, aku tak lagi ingin buta. Kegelapan yang kau bawa cukup sudah. Aku tidak lagi ingin menggapai-gapai ke segala arah tanpa tahu yang kutuju ternyata semu.
Dan aku memilih kediaman ini, keasingan ini. Dan kejauhan ini.
And I will make sure to keep my distance.
Say "I love you" when you're not listening.
(Christina Perri - Distance)
Kalau kau tahu rasanya kehilangan!
Apakah rindu itu setelah akhirnya bertemu? Mungkin serupa tumbuh kuku. Setelah terpotong akan tumbuh lagi. Perlahan. Bertahap.
Rindu padahal sudah bertemu. Mungkin seperti tumbuh kumis pria dan tumbuh bulu ketiak wanita. Sudah dicukur tetap tumbuh lagi. Dengan waxing juga akan tumbuh kembali. Dengan laser dan elektrolisis diharap lebih tuntas. Sampai ke seluruh bikini line.
Rindu memang dibiarkan tumbuh. Tidak boleh mati. Meski kadang menjadi derita yang mendera tetap dipiara. Karena suka. Karena cinta.
Juga karena harapan. Menjadi menyakitkan kalau bertepuk sebelah tangan. Tapi banyak orang tak jera. Harapan kadang harus diimbangi kenekatan.
Perjuangan hati memang mahal. Tapi kadang dibilang bebal.
Aku yang mempersenjatai mata serta jariku.
Pengukir denyut nadi yang membeku.
Pelukis cahaya dengan pena-pena diafragma.
Pemuja senyum objek yang memeluk spektrum warna.
Perekam tragedi suka cita pelepas dahaga mata.
Penenun momen lembaran waktu.
Pemahat akurasi detik demi detik hingga keras membatu.
Pembakar memori dalam ruang lembaran persegi.
Peracik komposisi gerak.
Penangkap keselarasan cahaya kilat.
Pembicara dalam diam.
Pendiam dalam bicara.
Peramu kolase tawa.
Penunggu kesunyian mata dalam keriuhan telinga.
Penghuni tiap lembaran foto tanpa diriku sendiri berada di dalamnya.
-Jakarta
Aku harus tulis apa, Tuhan? Untuk kesekian kalinya dada ini terasa sesak. Sakit rasanya. Kepada siapa aku harus berbagi? Bolehkah aku menangisi untuk hal yang sama? Hal yang pernah terjadi satu setengah tahun lalu lamanya? Bolehkan aku jatuh ke lubang yang sama, Tuhan? Terlalu bodoh kah diriku membiarkan aku jatuh di lubang itu? Apa yang harus aku katakan? Terlalu naifkah diriku?
**
Satu setengah tahun yang lalu, Engkau memperkenalkan mereka kepadaku. Keempat lelaki yang membawa perubahan terbesar dalam hidupku. Pertama, Kau memperkenalkanku pada seorang pria yang ku sebut Pancirantang. Hahaha of course, itu panggilan samarannya. Entah kenapa, aku tak ingin ada yang mengetahui tentang dirinya. Kau pasti sudah tahu kan, Tuhan. Semua gerak-gerikku di awasi! Aku tidak bebas melakukan apa yang ku mau. Bukan. Bukan karna, aku seorang public figure. Tapi, karna.. Ah, sudahlah. Lupakan. Tanpa kutulis sekalipun, Kau pasti sudah mengetahuinya :) Benar begitu bukan? Aku mengenalnya lewat Social Media as Facebook. Hahaha Ingatanku masih cukup kuat untuk perkenalan singkat itu. Aku mencintainya, Tuhan. Hanya karna perbedaan keyakinan, aku harus melepaskannya :') Aku coba ikhlas, kalau itu yang terbaik untuk kami berdua.
Yang kedua, Kau perkenalkanku pada bang Tinus. Seorang yang bersahabat baik dengan Pancirantang dan sempat membantuku untuk mengutarakan perasaanku padanya :D Aneh ya.. Orang yang awalnya aku anggap sebagai abang sendiri, yang ternyata seiring berjalannya waktu, aku dan dia menjadi 'kita'. Aku (cukup) bahagia bersamanya. Terima kasih atas waktu sebulan yang Kau berikan kepada kami agar bisa bersama. Kami memilih untuk mengakhiri hubungan kami dengan sebuah kesepakatan di kala malam itu. Masih ingat bagaimana jelas, kata 'putus' itu keluar dari mulutku kita. Sungguh, itu bukan sebuah pelarian. Aku menyanyanginya. Walau kadang, aku masih teringat dengan Pancirantang :(
**
Yang kedua, Kau perkenalkanku pada bang Tinus. Seorang yang bersahabat baik dengan Pancirantang dan sempat membantuku untuk mengutarakan perasaanku padanya :D Aneh ya.. Orang yang awalnya aku anggap sebagai abang sendiri, yang ternyata seiring berjalannya waktu, aku dan dia menjadi 'kita'. Aku (cukup) bahagia bersamanya. Terima kasih atas waktu sebulan yang Kau berikan kepada kami agar bisa bersama. Kami memilih untuk mengakhiri hubungan kami dengan sebuah kesepakatan di kala malam itu. Masih ingat bagaimana jelas, kata 'putus' itu keluar dari mulut
**
Yang ketiga, bernama Bebek. Orang yang ku sayangi sampai detik ini. Sebut saja aku belum bisa move on darinya. Toh benar begitu adanya. Kami tak pernah punya hubungan apa-apa selain bersahabat baik. Dia banyak bercerita padaku tentang dirinya, keluarganya serta tentang mantan pacar satu-satunya :') Ah, yang terakhir itu yang membuatku masih sesak setiap kali berpas-pasan dengannya di social media. Mereka menjalin kembali hubungan mereka, ketika aku dan bebek berselisih paham. Sakit? Pastinya!
**
Yang keempat bernama Dria. Aku tak yakin seberapa besar perasaanku padanya. Tapi yang ku tau, kita putus begitu saja. Tanpa ada iming-iming apapun. Bahkan aku pun tak menahannya atau sekedar mencarinya ketika kita sama-sama diam. Dan satu hal yang ku sadari, aku pernah merasakan kehilangan dirinya. Dan sesak tentunya. Karna dia menjalin hubungan dengan orang yang aku anggap sahabat. Entah bagaimana caranya mereka bisa kenal satu sama lain dan menjalin hubungan. Jujur aku menangis saat itu. Siapa yang tak sakit hati? Kalian tahu bukan bagaimana rasanya di tusuk dari belakang? Yap! Begitu lah rasanya. Suaaaakit (minta ampun)!!
**
Dalam kurun waktu kurang lebih satu setengah tahun, sudah ada empat orang lelaki yang berhasil mengambil sebagian diriku, perhatianku.. Mereka hebat!! Mereka berhasil membuat duniaku jungkir balik. Mereka membawa perubahan besar dalam hidupku. Mengajariku apa itu saling mencinta, mencintai tanpa memiliki, di cintai untuk di sakiti.. Menjadikanku selangkah lebih dewasa. Menjadi orang yang ekstra sabar dan sering menghela nafas setiap kali mengingatnya. Hebat bukan mereka? Hahaha
Tuhan, kali ini Kau hadirkan kembali dua orang lelaki yang berbeda. Sampai detik ini, aku masih berkomunikasi secara baik dengan mereka. Walau kadang, aku lebih memilih menjauh. Aku tak ingin kejadian itu terulang kembali untuk kesekian kalinya. Sungguh, aku juga sudah lelah melakukannya. Melakukan kesalahan yang sama berulang-ulang. Tapi aku harus berbuat apa? Aku bimbang. Aku gelisah. Dan aku terlalu takut. Aku takut kehilangan mereka seperti aku kehilangan empat lelaki itu. Aku berontak dalam diam, aku kesal dalam diri, aku diam dalam batin, dan aku menangis dalam kebisuan..
Berapa lama kita tak bertemu???
Berapa lama kita tak bertatap muka???
Berapa lama kita tak berbincang???
Berapa lama kita tak saling berinteraksi???
Tak harus aku yang mencari
Tapi haruskah aku hanya sekedar menunggu???
Berikanlah aku sebuah bukti
Aku dan cintaku...
hanya bisa terpaku...
Aku terbelenggu...
Kenapa kau tak kunjung tahu
Aku cintaimu..
sial, bahasaku kian merancu.
aku tidak tau apa yang kubicarakan,
aku bahkan tidak tau siapa pemilik jari ini.
aku, seperti mawar yang rontok akan durinya.
Subscribe to:
Comments (Atom)


- Follow Us on Twitter!
- "Join Us on Facebook!
- RSS
Contact