Monday, February 11, 2013 0 comments

Berhenti di Kamu.

Aku marah.
Aku menangis.
Aku sakit.
Aku kecewa.
Dari sekian banyak aku di situ, sempat aku tak mampu memahamimu. Menyebabkan aku terjatuh dari tingginya egomu dan tertusuk oleh tajamnya logikamu. Sehingga aku hampir mati di ujung kata menyerah, menghancurkan “kita” hingga terpecah menjadi “aku” dan “kamu”.
Tapi aku pernah bahagia.
Tapi aku pernah tersenyum.
Tapi aku pernah terlindungi.
Tapi aku pernah tersayangi.
Hujanan kata “tapi” berhasil membuat aku basah kuyup dengan tetes-tetes kenangan. Aku terpejam dan diam. OH SIAL! Ada senyummu di pejamku, dan ada bahagiaku kemudian, seperti tanda bahwa aku hanya bisa bahagia jika aku melihat senyummu.
Aku adalah lokomotif untuk hati dan pikiranku, sedangkan kenangan tentang kita adalah masinis yang tahu kapan aku harus berhenti dan kapan aku harus berlari. Jika memang kamu yang namanya yang selalu muncul sebelum kata amin adalah pemberhentianku, maka aku yakin, Tuhan akan memeluk “aku” dan “kamu” dalam selimut “kita”.
0 comments

Pengakuan.

Jika dulu kamu bertanya sedang apakah aku, jawaban yang paling mungkin aku beri adalah “Sedang memikirkan kamu..” atau lebih mungkin lagi “Sedang ingin bersama kamu..” atau "Sedang nafas.." ketika aku tidak tau apa yang aku sedang lakukan.
Tapi tidak dengan sekarang, jika kamu bertanya aku sedang apa, jawaban fiktif yang memang mewakili kenyataan saat ini adalah “Sedang merapikan hati yang pernah kamu hancurkan..”
Aku tidak menyangka, menjadi aku yang tanpa kamu sangatlah berat. Karena setiap jengkal dari aku terasa ada kamu. Ibaratkan saja, aku adalah sepatu kanan, dan kamu adalah sepatu kiri, jika tidak bersama maka tidaklah lengkap.
Akupun tidak menyangka, ternyata menjadi seorang Asca yang tanpa kamu-yang-tak-ingin-ku-sebutkan-namanya bukanlah hal yang mudah. Karena di setiap rongga otakku sudah terisi tentang kamu. Sebegitu penuhnya, hingga aku selalu fasih dalam menjawab tanya “Kangen aku nggak?”. Bahkan jika diadakan perlombaan tentang siapa kamu, bagaimana sifatmu dan apa kesukaanmu, mungkin aku yang jadi juaranya. Karena aku pernah dan masih mengenal kamu secara utuh. Akupun tahu apa yang bisa membuatmu tersenyum dan kesal, dan bahkan aku pernah tahu seperti apa kamu di mata teman-temanmu.
Di dalam logika dan perasaan ini, aku bertanya-tanya…
Tegakah kamu mengacuhkan aku? Padahal akulah orang yang pernah mendengarkanmu ketika kamu jatuh dan bosan. Aku juga yang pernah meneriakkan dengan lantang segala kebaikanmu ketika dunia memandang betapa buruknya kamu.
Tegakah kamu melupakanku? Padahal akulah orang yang pernah selalu membuatmu untuk tersenyum saat kamu merasa tidak ada hal lain yang patut dibahagiakan.
Tegakah kamu meninggalkanku? Padahal aku pernah menjadi satu-satunya orang yang tinggal di sisimu ketika semua orang tak ada waktu untuk menemanimu.
Tegakah kamu menghapus namaku dari hidupmu? Padahal akulah orang yang menulis namamu dalam setiap doa atas rahmat dan berkah Tuhan dalam kebahagiaanmu.
Sekarang ini, mungkin kamu membenci aku, layaknya seorang yang terkhianati. Tapi kenyataan berbalik padaku, aku tidak akan pernah bisa membenci kamu. Daun yang jatuh tak pernah membenci angin. Itulah aku! Aku tak bisa membenci kamu meskipun kamu sudah membuat hati ini melepuh dan akhirnya hancur.
Aku rela diberi label oleh Tuhan yang bertuliskan makhluk lemah jika nantinya dengan terpisahnya kita aku menjadi kuat. Bahkan mungkin ini adalah upaya Tuhan dalam membangun kenangan yang akhirnya nanti menjadi bekal penyemangat hidupku yang harus dirapikan kembali. Aku percaya doa, aku percaya Tuhan. Pada akhirnya, jika nanti kita dipertemukan kembali, semoga Tuhan sudah memberi aku dan kamu sebuah label bertuliskan kisah terbaik, entah nanti kita akan bersama atau tidak. Terima kasih, kamu..
 
;