Sunday, September 1, 2013 0 comments

Dia.

Jalannya selalu begitu
Didekati dan perlahan hilang
Seperti bayangan disapu cahaya
Semakin terang semakin ia menghilang
Hanya dalam angan.

Setelah menyampaikan kata
Ia kembali meninggalkan bekas
Dengan langkah lembut
Pijakannya menjelma rindu yang talut
Diiringi sedikit puisi. Dia pergi.

Senyumnya tebarkan kedamaian
Lirikannya pancarkan keindahan
Sentuhannya berikan kehangatan

Rasa yang tak diharapkan
Seperti angin yang menyejukkan
Lalu pergi bersama awan
Buat aku mabuk kepayang.

Wednesday, May 8, 2013 0 comments
Postingan ini adalah hasil paksaan diri gue sendiri agar supaya mengisi kekosongan pada blog ini, blog yang dulu selalu diisi, selalu menjadi pembagi hari.
I have no idea what plot that would be written in this post, but yeah, brace yourself. It'll take a little time of yours cause it might be a long (and nonsense) post.
Entah kenapa juga mesti ada bahasa inggrisnya, tetapi agaknya merupakan refleksi dari kepusingan diri sendiri, yang sebenernya gak lancar dan gak jago bahasa inggris tapi bahan-bahan tugas sekolah mayoritas pake bahasa inggris. Semacam on-off bahasa di bilik otak gue yang ngatur bahasa kadang-kadang tidak berjalan dengan baik. Jadi maaf, bukan sok iyeh. Suer. Samber. Gledek. #kemudiandisamber

Boong deng gak disamber.
Malem ini entah kenapa gak ada kegiatan apapun selain meratapi nasib. Iya, nasib. Dan entah kenapa gue punya keyakinan, bahwa masih ada lho yang dengan bodohnya bakal masih buka ascanabilla.blogspot.com ini, sehingga gue memutuskan untuk mengisinya. Masih ada kan ya? #nadaragu 
Masuk ke dalam bagian dari apa yang lagi gue rasain (brace yourself). Di penghujung masa SMA gue kali ini, gue bingung akan memilih Universitas mana. Ya walaupun dari hati terdalam gue berharap banget bisa lolos SNMPTN Kedokteran UGM. Kedokteran, men!

 
Tapi apa yah? Lebih ke... gak nemu, sebenernya gue ini mau kemanaaa?! (mulai pake emosi), makin ke sini malah gue makin gak tau udah gede gue mau jadi apa dan ngapain. Kalo ditanya, bener-bener gak tau. Ikutan pelatihan ini itu yang salah satunya sebut saja pelatihan mengelola hidup dan merencanakan masa depan (ya emang namanya itu haha), gue di sana juga sebenernya ngisi-ngisi form perencanaan dan segala macem hanya formalitas aja, belum dari hati. Gue suka kuliah di Kedokteran, gue suka ketika salah satu guru gue bercerita apa itu hemoglobin, golongan darah, pernafasan manusia, sistem peredaran darah, perkembangbiakkan, I love them. Tapi gue gak tau bakal jadi apa. Karena gue gak nguasain satu keahlian apapun.

Yak dan gue bilang 'kalo udah gede' kayak yang sekarang gue masih kecil aja, tahun ini masuk umur 16 taun cyinn. Kemaren gue beres-beres kamar, dan gue heran, di umur yang baru segini (dan di kamar yang dihuni kurang lebih 3 tahun) aja, udah banyak banget kenangan yang bisa dipilah yang mana yang mau disimpen dan yang mana yang direlakan untuk dibuang. Beres-beres adalah kegiatan yang paling bikin galau sedunia. Dari jaman MOS, entah kenapa gue hobi amat naro-naro barang yang gak penting atau nulis-nulis di kertas sesuatu dan gak dibuang. Gue baru inget ada kalanya gue mesti memilih cowok mana yang mau gue lanjutin dan yang mana yang mau gue hentikan. As ta ga. Kalo gak beres-beres gue lupa sama sekali kalo waktu jadi MOS, gue sempat memasuki masa tergalau, yang sekarang gak kebayang karena hampir gak pernah galau-galau bombay. Dan gue ketawa juga kenapa... gue memutuskan untuk memilih laki yang satu itu. Dan jadi mikir juga, gimana seandainya kalo gue gak melakukan hal yang namanya memilih.

Overall, sebenernya gue menikmati hidup gue sekarang, gila lo kalo gak nikmatin gak bersyukur banget. Yang dicari sama gue adalah kesabaran yang gak ada batas dan ketabahan yang gak pernah goyah, kalo itu gue udah bisa punya, apapun yang terjadi gak akan jadi masalah kan ya?

Udah malem. Udahan dulu ya.
xoxo
Tuesday, May 7, 2013 0 comments

Fatamorgana..

For them who are blind, have a vision to see many kind of colors, kind of shapes,
is too much to ask.
For them who are deaf, to go to a concert with sort of friends enjoying the

beat of music, is too much to ask.
For them who are poor, sitting in the car listening itouch then daydreamin,

is too much to ask. They didn't even ate last night.
For them who are homeless, fluffy blanket soft mattress comfy pillow,

is too much to ask.
For them who are popular, walking in the park buying ice cream

without any paparazzi noticing them, is too much to ask.
For them who are just broke up, smoothly turning the lover into friend,

is sometimes too much to ask. Thing isn't as simple as that.
For them who are motherless, to see her watching tv

while they're busy with their phone, is too much to ask. 
Even to hear her voice calling their name.
Or messaging her for their come-home-late tonight.
For them who are fatherless, waiting him come bring them 

some supper for the hungry belly, is too much to ask. 
Even to see his wrinkles, knowing that he's getting older.

But here's a thing, there's nothing too much to give.
Cause everything you thought you're already have, that's not yours.
You genuinely own nothing, sweetie.
Monday, February 11, 2013 0 comments

Berhenti di Kamu.

Aku marah.
Aku menangis.
Aku sakit.
Aku kecewa.
Dari sekian banyak aku di situ, sempat aku tak mampu memahamimu. Menyebabkan aku terjatuh dari tingginya egomu dan tertusuk oleh tajamnya logikamu. Sehingga aku hampir mati di ujung kata menyerah, menghancurkan “kita” hingga terpecah menjadi “aku” dan “kamu”.
Tapi aku pernah bahagia.
Tapi aku pernah tersenyum.
Tapi aku pernah terlindungi.
Tapi aku pernah tersayangi.
Hujanan kata “tapi” berhasil membuat aku basah kuyup dengan tetes-tetes kenangan. Aku terpejam dan diam. OH SIAL! Ada senyummu di pejamku, dan ada bahagiaku kemudian, seperti tanda bahwa aku hanya bisa bahagia jika aku melihat senyummu.
Aku adalah lokomotif untuk hati dan pikiranku, sedangkan kenangan tentang kita adalah masinis yang tahu kapan aku harus berhenti dan kapan aku harus berlari. Jika memang kamu yang namanya yang selalu muncul sebelum kata amin adalah pemberhentianku, maka aku yakin, Tuhan akan memeluk “aku” dan “kamu” dalam selimut “kita”.
 
;