Aku marah.
Aku menangis.
Aku sakit.
Aku kecewa.
Dari sekian banyak aku di situ, sempat aku tak mampu memahamimu. Menyebabkan aku terjatuh dari tingginya egomu dan tertusuk oleh tajamnya logikamu. Sehingga aku hampir mati di ujung kata menyerah, menghancurkan “kita” hingga terpecah menjadi “aku” dan “kamu”.
Tapi aku pernah bahagia.
Tapi aku pernah tersenyum.
Tapi aku pernah terlindungi.
Tapi aku pernah tersayangi.
Hujanan kata “tapi” berhasil membuat aku basah kuyup dengan tetes-tetes kenangan. Aku terpejam dan diam. OH SIAL! Ada senyummu di pejamku, dan ada bahagiaku kemudian, seperti tanda bahwa aku hanya bisa bahagia jika aku melihat senyummu.
Aku adalah lokomotif untuk hati dan pikiranku, sedangkan kenangan tentang kita adalah masinis yang tahu kapan aku harus berhenti dan kapan aku harus berlari. Jika memang kamu yang namanya yang selalu muncul sebelum kata amin adalah pemberhentianku, maka aku yakin, Tuhan akan memeluk “aku” dan “kamu” dalam selimut “kita”.

No comments:
Post a Comment