Tuesday, November 22, 2011

Senja Menjelang Pagi


Setiap kali aku melihat senja, aku selalu teringat padamu. Kamu selalu memuji kehangatannya, yang menurutku serupa kamu. Rona senja yang kamu suka, matahari yang perlahan berbaring di ujung cakrawala dan wajahmu yang terpukau karenanya. Aku rindu itu semua, mungkin bibir pantai bosan mendapatiku duduk sendiri dan bercerita kepada angin tentangmu.

Setiap kali aku melihat bulan, aku selalu rindu denganmu. Mengingat kamu selalu berbicara tentang bulan, dan memuji bulan sebagai penerang malam. Bingkai jendela mungkin bosan mendengar aku selalu berkeluh tentang rindu, rindu yang hanya kepadamu di sana.

Malam ini bulan purnama, laut pasang selangkah lebih tinggi di bibir pantai tempatku termenung. Kembali berkeluh kesah, kali ini bukan pada bingkai jendela. Rindu menggila yang tak kutau apa penawarnya. Hingga akhirnya aku mengeluarkan pistol dari balik jaketku, aku ingin bertemu denganmu, senjaku.

“DOR” suara pistolku memecah keheningan malam di bibir pantai sunyi. Kini langit malam perlahan memerah serupa senja yang merekah, aku tersenyum menikmatinya. Kuacuhkan bulan purnama yang meringis memegang dadanya, selongsong peluruku bersarang di sana.


No comments:

Post a Comment

 
;