Friday, June 15, 2012

Seperti kita, pada suatu ketika.


Kamu datang kemarin malam. Cuma dalam mimpi, tapi seperti benar terjadi.

Mungkin kelak, pertemuan kita akan terjadi persis seperti itu. Aku dan kamu sama-sama tengah dalam sebuah bus, menempuh perjalanan menuju entah ke kota mana. Mungkin Yogya, atau Bandung. Kita berdua duduk pada kursi paling pinggir. Kursi yang bersebrangan, yang sebelah tempat orang berlalu-lalang. Lalu kita berhadapan. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba tangan kita sudah berpegangan. Kamu lalu bercerita, tentang apa saja. Ah, seingatku, kamu mengeluh mengenai keinginanmu untuk lekas lepas dari rutinitas menjemukan itu.

Di dalam mimpi tadi malam, bus yang kita tumpangi sepi penumpang. Bukan cuma sepi, tapi sangat sepi. Hanya ada aku dan kamu. Dan mungkin, pengendara yang tak kita ketahui siapa. Aku jadi ingat apa yang pernah kita bicarakan. Katamu, pertemuan, pembicaraan, pembebasan pikiran-pikiran liar kita mengenai kehidupan, benar-benar seperti terjadi di alam mimpi. Ini bagai imajinasi, ujarmu. Karena di dunia nyata, kamu hampir tak pernah menemukan cerita seperti ini. Aku tersenyum, tepat saat kamu berkata, bahwa aku telah menarikmu masuk ke dalam duniaku.

Lalu aku mendengar kamu bertanya, setengah berbisik, mengenai aku yang tak percaya dengan kebetulan-kebetulan dalam hidup. Mengenai kekuatan luar biasa yang menggerakan setiap pertemuan.

"Kekuatan itu, berasal dari diri kita, atau sesuatu yang memang terdapat di luar dan sudah ditentukan entah sejak kapan?"

Kamu tahu kenapa bisa terjadi sebuah pertemuan? Karena ada dua orang, yang berjalan menuju titik yang sama. Tak ada yang cuma mencari, sedang yang lain hanya duduk saja menunggu. Keduanya mesti bergerak. Sama-sama mengayun langkah. Untuk kemudian berhenti di garis yang sama. Yang bersinggungan. Seperti kita, kuharap, pada suatu ketika.

No comments:

Post a Comment

 
;