Cerita nggak selalu happy ending kan? Permasalahan dalam hidup juga nggak melulu harus selesai dengan solusi kan? Beberapa hal kadang kubiarkan terputus, berakhir dengan tanya, selesai tanpa kesimpulan. Ini salah satu ceritaku yang kubikin berakhir menggantung dan aku nggak menyesalinya.
Dulu aku punya teman cowok. Awalnya kami tidak begitu dekat. Dia baik, maka kubalas baik. Sampai akhirnya dia memilihku sebagai partnernya dalam sebuah proyek perlombaan photography yang membutuhkan kerja sama tim.
Ah, inilah pertama kali aku menyadari bahwa dia ternyata nyaman denganku. Dari sekian banyak temannya, kenapa aku yang dipilih? Toh, kami nggak punya hobi, kebiasaan, dan tujuan yang sama.
Hm, diam-diam aku bahagia. "Aku punya teman baru", batinku. Selama berkawan, dia tampak begitu berbeda dengan teman-temanku yang lain. Melihat dia, aku seperti melihat diriku sendiri. Kami punya selera obrolan dan musik yang sama, kami sinis pada hal yang sama, kami antusias pada sesuatu yang sama. Aku merasa klop, happy, bahkan kami nggak pernah marahan. Kalau pun itu terjadi, tidak berlangsung dalam kurun waktu lebih dari tiga menit. Berani taruhan?
Saat orang lain menganggap aku aneh dan keluar track, dia jadi satu-satunya orang yang paham dengan jalan yang kutempuh. Dia idealis, dia pintar, dia ontime, dia perencana yang baik, dia unik, dia kukuh hati, dia kaku, dia pemarah, dia humoris, dia gaul, dan dia lebih tua dariku.
Seiring berjalannya waktu, tiba-tiba sikapnya berubah padaku. Tanpa sebab. Mulanya aku nggak merasakannya. Lama-lama, perubahan sikapnya sangat jelas. Dia nggak membalas candaanku. Huh, sakit rasanya. Seperti dikacangin. Hal paling ekstrem adalah saat kumintai tolong, dia tegas menolak.
Dia lebih banyak diam jika bersama denganku. Aku yang nggak habis pikir dengan sikapnya, mau nggak mau ikutan diam jika lagi bersamanya. Alhasil, kami seperti orang yang sedang marahan, tapi nggak ada sebabnya.
Akhirnya, dia yang pekerja keras itu berhasil mendapatkan pekerjaan setelah sekian tahun menganggur. Dia menjadi tambah jauh, bahkan sangat jauh. Sepertinya dia mulai sibuk dengan rutinitasnya sekarang. Dan aku mengerti. Tidak ada lagi telpon berdering di tengah malam, tidak ada lagi gelak tawa, tidak ada lagi suara petikan gitar sebagai pengantar tidur. Dan tidak ada lagi sms yang berisikan "Kebeb". Ah.. Aku rindu semuanya. Nggak ada perpisahan di antara kami. Nggak ada jabat tangan, peluk, bahkan saling harap kelak masing-masing akan sukses pun nggak ada.
Aku memang nggak menangis. Aku bahkan ragu apakah aku sedih saat dia sudah nggak ada lagi di depan mataku. Tapi yang jelas, melihat dia jauh, perasaanku aneh. Seperti ada mozaik yang terlepas dari hidupku.
Bagaimanapun, dia pernah dekat dengan keseharianku. Dia pernah dengan tulus membantuku. Kebodohan terbesarku adalah nggak bertanya kenapa akhirnya dia bersikap kebalikan padaku. Mungkin karena aku diliputi rasa marah dan tersinggung padanya.
Perpisahan sudah terjadi. Sekali lagi aku nggak menyesal dengan semua ini. Biarlah cerita pertemanan kami berjalan seaneh ini. Aku tetap menyimpan nomornya di HP untuk sesekali bertanya kabar dia di sana. Aku juga masih berteman di FB barangkali kami bisa saling chat saat kebetulan ketemu di dunia maya. Seandainya dia nggak merespon SMS dan chatku, aku nggak akan sakit hati karena kami sudah nggak sedekat dulu. Tapi aku berdoa dengan tulus semoga dia benar-benar meraih impiannya. Hm, impian yang dulu sempat dia ceritakan padaku dengan renyah dan sambil tertawa lebar.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment