Udara yang mencoba masuk ke paru-paruku mendadak tercekat. Ada segumpal tangis tertahan yang menghambat lajunya. Entah, tiba-tiba datang begitu saja.
Aku mencoba menerka. Kupikir rindu sebabnya. Bukan sekadar rindu bertemu. Tapi rindu akan tawa dan keceriaan kita dulu.
Sudah cukup lama kamu mempersilakanku duduk di singgasana yang ternyata adalah bangku roller coaster. Peganganku terkadang goyah. Namun aku tak cukup bodoh untuk nekat melompat keluar dan membiarkan diriku mati begitu saja.
Aku akan bertahan. Mencoba berpegang pada apa yang bisa kujadikan pegangan. Sampai akhirnya nanti kau sendiri yang mempersilakanku turun dari sana. Atau menghentikan laju wahananya…
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

1 comment:
Jangan berhenti menciptakan, meskipun tak pernah indah.
Jangan pula berhenti belajar, meskipun tak akan pernah menjadi pintar.
Menjadi 'terbiasa' akan lebih baik untuk menghadapi hidup.
Post a Comment