Sepanjang hidup, kita seolah tak berhenti berusaha menaklukkan cinta.
Cinta harus satu, cinta tak boleh dua, cinta maksimal empat, dan
seterusnya. Jika cinta matematis, pada angka berapakah ia pas dan pada
angka berapakah ia bablas? Dan kita tak putus merumuskan cinta, padahal
mungkin saja cinta yang merumuskan kita semua. Infinit merangkul yang
finit.
Hidup berpasangan katanya sesuai dengan alam, seperti
buaya yang hidup monogami tapi ironisnya malah menjadi ikon
ketidaksetiaan. Namun terkadang kita melihat seekor jantan mengasuh
sekian banyak betina sekaligus, berparade seperti rombongan sirkus. Dan
itu pun ada di alam. Lalu ke mana manusia harus bercermin?
Sebagaimana
semua terpecah menjadi dua kutub dalam alam dualitas ini, terpecahlah
mereka yang percaya cinta multipel pastilah sakit dan khianat dengan
mereka yang percaya cinta bisa dibagi selama bijak dan bajik. Yang satu
bicara hukum publik dan nurani, yang satu bicara hukum agama dan kisah
hidup Nabi. Yang satu mengusung komisi anti itu-ini, yang satu
menghadiahi piala poligami.
Merupakan tantangan setiap kita untuk
meniti tali keseimbangan antara intuisi individu dan konsensus sosial.
Sukar bagi kita untuk menentukan dasar neraca yang mensponsori segala
pertimbangan kita: apakah ini urusan salah dan benar, atau sebetulnya
cocok dan tak cocok? Jika urusannya yang pertama,
selamanya kita terjebak dalam debat kusir karena setiap orang akan
merasa yang paling benar. Jika urusannya yang kedua, masalah akan lebih
cepat selesai. Kecocokan saya bukan berarti kecocokan Anda, dan
sebaliknya. Namun seperti yang kita amati dan alami, lebih sering kita
memilih yang pertama agar berputar dalam debat yang tak kunjung selesai.
Semalam,
saya menerima sms massal yang mengatasnamakan ibu-ibu seluruh Indonesia
yang mengungkapkan kekecewaannya pada seorang tokoh yang berpoligami.
Pada malam yang sama, sahabat saya menelepon dan kami mengobrolkan
konsep poliamori (hubungan cinta lebih dari satu). Alhasil, saya terbawa
untuk merenungi beberapa hal sekaligus.
Pertama, orang yang kita
kenal sebatas persona memang hanya kita miliki personanya saja. Persona
adalah lapisan informasi paling rapuh, pengenalan paling dangkal, dan
oleh karena itu paling cepat musnah. Orang yang tidak kita kenal paling
gampang untuk dijustifikasi ketimbang orang yang kita kenal dekat.
Kedua,
apakah monogami-poligami dan monoamori-poliamori ini adalah sekat-sekat
tegas yang menentangkan nurani vs ego dan setia vs ‘buaya’? Mungkinkah
di kotomi itu sesungguhnya proses cair yang senantiasa berubah sesuai
tahapan yang dijalani seseorang, ketimbang karakteristik baku yang harus
di pilih atau distigmakan sekali seumur hidup?
Sungguh tidak
mudah menjadi seseorang yang personanya diklaim sebagai milik umat
banyak. Persona seperti secabik tisu yang dengan mudah dienyahkan,
diganti dengan tisu baru lainnya yang dianggap lebih bagus dan benar.
Banyak dari kita bermimpi dan berjuang mati-matian agar secabik diri
kita dimiliki banyak orang. Hidup demikian memang sepintas menyenangkan
dan menguntungkan, meski konsekuensinya titian tali yang kita jalani
semakin tipis. Ilmu keseimbangan kita harus terus diperdalam. Tali itu
harus dijalani ekstra hati-hati.
Tidak mudah juga menjadi
seseorang yang sangat teguh berpegang pada persona orang lain, pada
mereka yang dianggap tokoh, teladan, panutan. Status selebriti bisa ada
karena persona yang dipabrikasi massal lewat media lalu ‘selebaran’-nya
menjumpai kita, dan kita pungut. Kita mengoleksi persona mereka seperti
pemungut selebaran. Terkadang kita lupa, pengenalan dan pemahaman kita
hanya sebatas iklan yang tertera. Oleh karenanya justifikasi yang kita
lakukan seringnya bagai memecah air dengan batu; sementara dan percuma
saja. Tak terasa efeknya bagi hidup kita, tak juga bagi hidup yang
bersangkutan.
Kita yang kecewa barangkali bukan karena cinta
telah diduakan. Cinta tak bertuan. Kitalah abdi-abdi cinta, mengalir
dalam arusnya. Persepsi kitalah yang telah diduakan. Lalu kita merasa
sakit, kita merasa dikhianati. Namun tengoklah apa yang sungguh-sungguh
kita pegang selama ini. Perlukah kita ikut berteriak jika yang kita
punya hanyalah selebarannya saja, bukan barangnya? Barangkali ini momen
tepat untuk mengevaluasi aneka selebaran yang telah kita kumpulkan dan
kita percayai mati-matian. Betapa seringnya kita hanyut dalam kecewa,
padahal persepsi kitalah yang di kecewakan. Betapa seringnya kita
menyalahkan pihak lain, padahal ketakberdayaan kita sendirilah yang
ingin kita salahkan.
Apapun persepsi kita atas cinta, tak ada
salahnya bersiap untuk senantiasa berubah. Jika hidup ini cair maka
wadah hanyalah cara kita untuk memahami yang tak terpahami. Banyak cara
untuk mewadahi air, finit mencoba merangkul infinit, tapi wadah bukan
segalanya. Pelajaran yang dikandungnyalah yang tak berbatas dan
selamanya tak bertuan, yang satu saat menghanyutkan dan melumerkan
carik-carik selebaran yang kita puja. Siap tak siap, rela tak rela.
Sumber : (Published - Pikiran Rakyat)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment