Kepada B!,
Ini surat cinta pertamaku untukmu. Kamu tahu kan, kalau selama ini aku mencintaimu dengan sungguh-sungguh. Aku mengucapkannya setiap waktu, aku bahkan pamer pada siapa saja. Katanya, cinta yang sungguhan, adalah cinta yang tak malu diungkapkan di hadapan dunia. Cinta yang sungguhan, adalah cinta yang mampu membuatmu menanggalkan semua ego. Dan hanya ingin semua orang tahu, bahwa kamu mencintainya. Hingga, tak ada yang berani mencintainya, sebanyak cinta yang kamu punya. Kamu memberinya batasan kepunyaan, ‘dia milikku’.
Dan B!, ‘kamu itu milikku’. Baiklah, anggaplah aku posesif.
***
Aku rasa aku mencintaimu sejak, sejak aku merasa bahwa kamu menyenangkan. Sejak setiap kali aku bahagia atau sedih, kamulah yang pertama kali terpikir untuk kusapa. Birumu, mereka melautkan langit. Mereka pun melautkan aku. Dan ya, kamu diam, kamu hening, kamu mendengarkan dan kamu menenangkan.
***
Cinta yang hebat, adalah yang menyatu dalam senyum dan tawamu. Mereka melebur dalam dirimu. -- falafu
Hey B!,
Oh come on, kenapa aku bisa secinta ini padamu? Kenapa aku ingin selalu bertemu denganmu. Kamu tahu kan manusia, aku tidak suka mereka yang sering menilai apa-apa dari bungkusnya. Mereka merendahkan isi. Mereka kerap menilai terlalu dini. Dan aku, kamu tahu aku kan, aku adalah pribadi yang tidak ingin repot-repot mencitrakan diriku untuk di cintai oleh cinta yang hobinya mengelupas kulit-kulit permukaan pada diri seseorang. Itu mengapa, aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama antar manusia.Setidaknya, sampai saat ini.
***
Kamu tahu langit bukan? semua orang bilang Tuhan ada di atas sana. Lalu entah kenapa aku selalu percaya langit bersahabat dekat denganNya. Itu kenapa setiap kali memandangmu aku tak takut berharap. Kau, bukan cinta yang membuatku mengharap terlalu tinggi lalu takut jatuh tersungkur di suatu hari.Kau, memiliki kepercayaanku secara utuh. Keberanian untuk mencintai.
Kau tahu, biasanya ketika aku mendapatkan hari yang begitu buruk, aku akan memandangmu fotomu lalu hatiku akan bilang;
“Lihat Ca, dengan kau berada di bawah biru atap dunia ini, bagaimana mungkin Tuhan tak melihatmu yang tengah kesulitan. Semua akan baik baik saja. Karena kamu, kamu tidak pernah luput dari perhatianNya.” Dan seperti sebuah keajaiban, aku pun akan merasa baikan setelahnya.
***
Bagiku, cinta yang baik itu penyembuh. Mereka yang bisa membuatmu merasa baik-baik saja di tengah hari yang teramat membosankan. Mereka yang akan dengan setia ramah mendengarkanmu ketika semua orang tengah menyebalkan. Ya, bagiku kau punya itu. Kau, selalu baik padaku B!. Kau begitu baik.
Dan hey B!,
Kamu itu juga seperti atap. Bukan hanya atap yang melindungi. Kau atap yang mengajarkan. Kau memperlihatkan padaku bahwa dunia ini ada dalam dua sisi, selalu ada gelap dan terang. Dan bahwa tak ada gelap yang sanggup berlangsung selamanya dan tak ada pula terang yang mampu bertahan selamanya.
Seperti tidak akan ada sedih yang mampu menetap selamanya dalam hidup, begitu pun tidak ada bahagia yang bisa kamu dekap sepanjang hidupmu. Hidup ini bagiku bukan roda seperti kepercayaan orang kebanyakan. Bagiku hidup ini adalah tentang gelap dan terang yang terus mengganti harinya.
Kita, hanya tengah saling bergantian mendapatkan sinar. Kita pun hanya tengah bergantian menjalani malam. Dan bukankah malam, mereka pun mampu indah karena ada bintang. Jadi apa yang perlu lagi di khawatirkan? Tuhan, selalu tahu apa yang kamu butuhkan. Hal-hal yang pada “akhirnya” akan membuatmu bahagia.
Kau mengajarkan padaku, bahwa sinar, mereka menjadi lebih berarti ketika aku tengah berada dalam kegelapan. Ya, kau menceritakannya lewat bintang-bintang itu. Seperti hal-hal kecil baik dalam hidup. Mereka yang ketika bahagia, kau bahkan tak sanggup melihatnya.
Darimu aku pun memahami, bahwa bahagia dan sedih, bukan hal yang bisa jatuh begitu saja dalam hidupmu, mereka adalah hal yang harus kamu percayai ada.
Kamu percaya kamu tengah bahagia apa pun keadaanmu, maka kamu akan menjadi manusia yang penuh syukur. Tetapi ketika kamu percaya hidupmu menyedihkan, maka kamu akan menjadi manusia yang lekat dengan ratapan, bahkan ketika kamu bukan seorang yang tengah dekat dengan kelaparan.
***
Dear B!,
Aku tak pandai berkata-kata. Aku hanya bisa melakukan apa yang mungkin membuatmu bahagia.
Bisakah hanya dengan memberikan senyumku kau mengetahui betapa bahagianya aku berada di sampingmu?
Bisakah hanya dengan mengelus kepalamu saat kau sedih, kau tahu betapa pedulinya aku?
Bisakah hanya memberitahumu jangan begadang ya supaya bisa bangun pagi, kau sadar, kau adalah Pagi-ku?
Bisakah hanya dengan mengirimi-mu secangkir kopi setiap pagi kau mengetahui aku mencintaimu?
Atau bisakah kau membaca surat cinta ini, lalu kau sadar bahwa yang aku bicarakan itu dirimu?
Bisakah sesederhana itu?
Aku tak pandai berkata-kata. Aku hanya bisa melakukan apa yang mungkin membuatmu bahagia.
Bisakah hanya dengan memberikan senyumku kau mengetahui betapa bahagianya aku berada di sampingmu?
Bisakah hanya dengan mengelus kepalamu saat kau sedih, kau tahu betapa pedulinya aku?
Bisakah hanya memberitahumu jangan begadang ya supaya bisa bangun pagi, kau sadar, kau adalah Pagi-ku?
Bisakah hanya dengan mengirimi-mu secangkir kopi setiap pagi kau mengetahui aku mencintaimu?
Atau bisakah kau membaca surat cinta ini, lalu kau sadar bahwa yang aku bicarakan itu dirimu?
Bisakah sesederhana itu?
Dan B!, aku (akan) mencintaimu. Selalu.
Bahkan tanpa perlu kau cintai kembali J
Yang mencintaimu dengan sungguh-sungguh,
ca

No comments:
Post a Comment