aku pernah bertanya pada ibu, mengapa kita harus memejamkan mata
ketika meniup lilin seraya membisikkan pada Tuhan apa yang kita
kehendakki, kenapa tidak di buka saja matanya sambil menatap lekat orang
orang terkasihmu satu persatu bernyanyi dengan suara yang tidak pernah
padu padan tetapi terdengar berkali kali lebih baik dari harmoni
manapun..
karena berkali kali aku tidak pernah menutup mata, ku pandangi lilin itu lekat lekat, dan permintaanku selalu sama..
saat ini, aku mungkin tidak melihat lilin.. Tapi cahaya cahaya kecil
yang penuh harap terlelap.. Aku menatapnya lekat lekat, mencari alasan
kenapa dia begitu membuatku girang sekaligus kekanak-kanakkan.. Dia
tidak berwarna warni seperti kembang api, dia hanya temaram lampu jalan,
pantulan pendar cahaya kecil kuning bulat..
cahaya ini tidak warna warni, mungkin pernah terurai hingga tersisa
kuning temaramnya, namun aku tetap suka, emas kecoklatan seperti
tembaga, apa adanya..
ada bau karat yang menua seperti keletihan dan kehilangan, yang perlahan ku usap hati hati agar kembali temaram,
cahayaku tidak warna warni, dia yang ku tunggu dari jendela bersama
dengan angin dingin, cahayaku tidak warna warni, dia kuning tembaga,
bulat dan temaram bias lampu jalan tua, tak berubah meski awan kehitaman
atapun hujan deras..
ku lihat dekat, dia terlelap…
15 : 19


No comments:
Post a Comment