Tuesday, February 7, 2012



aku pernah bertanya pada ibu, mengapa kita harus memejamkan mata ketika meniup lilin seraya membisikkan pada Tuhan apa yang kita kehendakki, kenapa tidak di buka saja matanya sambil menatap lekat orang orang terkasihmu satu persatu bernyanyi dengan suara yang tidak pernah padu padan tetapi terdengar berkali kali lebih baik dari harmoni manapun..

karena berkali kali aku tidak pernah menutup mata, ku pandangi lilin itu lekat lekat, dan permintaanku selalu sama..

saat ini, aku mungkin tidak melihat lilin.. Tapi cahaya cahaya kecil yang penuh harap terlelap.. Aku menatapnya lekat lekat, mencari alasan kenapa dia begitu membuatku girang sekaligus kekanak-kanakkan.. Dia tidak berwarna warni seperti kembang api, dia hanya temaram lampu jalan, pantulan pendar cahaya kecil kuning bulat..

cahaya ini tidak warna warni, mungkin pernah terurai hingga tersisa kuning temaramnya, namun aku tetap suka, emas kecoklatan seperti tembaga, apa adanya..

ada bau karat yang menua seperti keletihan dan kehilangan, yang perlahan ku usap hati hati agar kembali temaram, 
cahayaku tidak warna warni, dia yang ku tunggu dari jendela bersama dengan angin dingin, cahayaku tidak warna warni, dia kuning tembaga, bulat dan temaram bias lampu jalan tua, tak berubah meski awan kehitaman atapun hujan deras..


ku lihat dekat, dia terlelap…


15 : 19

No comments:

Post a Comment

 
;