Monday, February 13, 2012

BOREDTIME LETTER :3


Selamat siang wib, ah.. Lama sekali rasanya kita tidak saling sapa, ataupun bertukar cerita.. Berkali-kali aku memanggilmu dan kamu diam saja.. Tapi sesekali ku selipkan kegundahan di antara do'a-do'a yang ku kirimkan, semoga kamu mengerti..

Mataku selalu saja berkabut, helaan nafasku mendadak berat.. Ketika aku mulai mengingat satu per satu..

Betapa Tuhan terburu-buru memanggil sahabatku..

Rasanya baru kemarin, kita berdebat film mana yang terbaik, superhero mana yang paling jago dan lingkungan sekolah yang baru.. Rasanya baru kemarin..

Kadang aku ingin menjadi pengecut, karena sesekali aku berharap kita masih anak kecil, yang hanya mengerti pergi ke sekolah, nonton cartoon, buat tugas dan jadi juara kelas..
Dan ketika kita di kecewakan oleh mainan yang rusak, atau orang-orang yang ingkar janjinya.. Kita cukup menangis sebentar.. Sampai tertidur dengan botol susu yang masih kita genggam, dan esoknya kita lupa..

Aku ingin menjadi seperti itu, pelupa.. Tapi rasanya sulit karena kamu bilang ingatanku seperti gajah, mendetail adalah nama tengahku..

Menjadi dewasa.. Seperti menjadi tentara di perbatasan..

Sekarang, mataku berkabut lagi. Bukan karena kamu, bukan… Tapi karena keyakinanku sendiri..
Dan aku tidak ingin menjadi manja, tidakkah kamu lihat bahwa sedikit demi sedikit aku menjadi kuat..
Kadang, adakalanya aku bangun dan merasa kamu masih di sana, belum pulang.. Dan aku bisa menemukanmu, kapan saja.. Adakalanya…

Adakalanya, aku kebingungan dan mengumpulkan rinduku perlahan, sambi terus bertahan dengan ingatan tentangmu..

Wib, kamu pernah bilang.. Jangan suka mencari evidence.. Jangan jadikan itu keahlian! Dan lagi lagi, evidence adalah sesuatu yang menggerus hatimu perlahan..
Dan lagi lagi, aku membenci keahlianku, membenci instingku.. Membenci semua teori yang membangun dirinya sendiri di otakku.. Dan jangan suruh aku memilih mana yang lebih aku percaya..

Wib.. Aku tidak ingin berkelahi dengan masa lalu, tidak akan membiarkan hatiku yang di gerus perlahan, karena aku bukanlah orang yang senang mempermasalahkannya, dan aku bukanlah penghapus kenangan..
Jaga saja perasaanku baik-baik, satu pesan yang sering aku katakan kepadamu, dan yang mungkin sulit sekali di pahami.. Atau itu adalah permintaan yang terlalu besar..

Jika begitu, haruskah aku mengecilkan permintaanku?

No comments:

Post a Comment

 
;