Wednesday, February 1, 2012
30 Days of Writing,
Fiksi Mini
Februari, satu, Rabu, di bawah Langit Kelabu.
Pagi ini aku terjaga dengan perasaan yang gundah. Seperti ada yang hilang meski tak dapat kuketahui itu apa. Hingga cahaya menjelang. Aku masih tak bergeming, mencerna mimpi aneh apa yang telah membuatku menjadi kosong dan suram seperti ini, di dalam hening yang kelam. Apakah sekarang aku sedang di masa depan? Ataukah terjebak kembali di sebuah lorong masa lalu yang tak dapat kutemui di mana letak pintu keluarnya?
Seharusnya hari ini menyenangkan. Karena aku begitu menyukai Rabu. Hari yang meski sendu tetapi selalu dapat membuatku tersenyum. Hari yang tanpa alasan dapat membuatku merasa senang. Hari yang istimewa dan selalu dapat membuatku bahagia. Dan Februari, adalah bulan yang selalu kunanti setiap tahunnya, walaupun terkadang ia menyisakan luka dan duka. Tapi tidak kali ini di saat aku berharap Februari tak seharusnya kembali. Dan hari ini, aku ingin membencinya. Membenci mereka. Rabu di awal Februari ini yang menghunjamkan gelisah.
Aku menengadahkan kepala. Lalu kecewa. Dengan wajah hampa, aku mengumam tak tertata, berucap tak bersuara. Tak kutemui biru langitmu. Tak ku temui cerah awanmu. Yang ku lihat hanyalah langit kelabu di atas seluruh penjuru kota ini, sepanjang hari. Apakah ini pertanda? Bahkan langit yang ku cintai pun bersekutu mengiringi kesenduan ini. Ini tak seperti biasanya. Apakah kalian mulai membenciku juga? Bahkan hujan pun tak ingin kau turunkan. Bahkan cahaya pun kau sembunyikan.
Dedaunan bersenandung ke arah tenggara, mengikuti jejak capung-capung yang terbang mengikuti angin di atas taman yang hening. Kau bisa lihat, pepohonan ini menertawaiku. Pun capung jingga senada dengan warna senja yang selalu ku kagumi itu. Dia bahkan bebas terbang begitu saja, semaunya, melangkahi jarak, tak seperti pikiranku yang runyam dan serasa beruntun menerima hantaman.
Saat menulis ini, seorang perempuan bersuara cantik tiba-tiba saja meneleponku. Operator gila yang membicarakan tentang bonus pulsa. Padahal yang ku ingin dengarkan saat ini adalah suaramu saja. Suara tawamu di setengah lima.
Dan langit kelabu layaknya pisau tua yang membunuh perlahan.
Lalu tak mungkin ada lagi kah senja yang akan kita lalui berdampingan?
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment